Metode Pembelajaran, Model Pembelajaran kreatif, cara belajar cepat, motivasi sukses, peluang usaha, tips bisnis, tips investasi, insurance, travelling, tutorial blogger, trik seo, teknik fotografi, Aneka seni kerajinan tangan, origami, resep masakan khas, tips kesehatan, obat alami, cara cantik alami.

GURUKU PAHLAWANKU – DIBALIK MAKNA HARI GURU NASIONAL

Himne Guru - Lagu spesial untuk guruku. Selamat hari guru nasional, Selasa, 25 November 2014.

Gambar bpak pendidikan Indonesia Ki haja Dewantara

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

Masih ingatkah dengan lagu “ Himne Guru” karya Eyang Sartono di atas? Semoga saja masih ingat. Jika ada yang menyebut atau mendengar sebutan pahlawan tanpa tanda jasa, hal pertama yang terbasit dalam benak kita pastilah guru. Sebutan itu tak lagi asing jika di perdengarkan di telinga kita. Itupun tak terlalu berlebihan, mengingat jasa guru yang luar biasa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Apalagi mereka yang di tugaskan di daerah pedalaman, butuh tekad dan niat yang kuat untuk bisa bertahan pada tujuan awalnya yaitu untuk menghilangkan kebodohan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Tak banyak yang dapat bertahan untuk itu. Betapa pun peringatan serta bentuk penghargaan sekalipun belum dapat mengimbangi jasa dan perjuangan mereka. Dan untuk mereka di persembahkan satu hari khusus pada tanggal 25 November,- yang bertepatan dengan ulang tahun PGRI- yang di peringati sebagai Hari Guru Nasional.

Tapi ada satu poin penting yang terlupa dalam hal ini, seorang guru memang mulia dengan tugas mengajar dan pengabdiannya. Tapi sebutan guru selalu hanya melekat pada beliau-beliau yang tugas dinasnya di sekolah-sekolah ataupun lembaga pendidikan lainnya. Padahal guru sebenarnya tak hanya sebatas itu. Guru adalah mereka yang mengajari kita, biarpun itu hanya satu huruf saja dan kita paham, itulah guru. Pemahaman semacam ini sudah terlanjur salah kaprah,salah yang di anggap lumrah dan umum. Sebenarnya tak sepenuhnya salah sih, tapi ada baiknya kita berbenah untuk memperluas pemahaman kita tentang itu.

Dalam proses belajar seseorang, sebelum mereka memasuki masa sekolah –entah itu PAUD, TK,ataupun SD- dan sebelum mereka mengenal sosok guru, terlebih dahulu mereka melalui proses belajar di bawah asuhan orang tua, terutama ibu. Jadi pahlawan tanpa tanda jasa yang pertama dan utama sebelum yang lainnya adalah ibu. Tanpa seorang guru, tak dapat di bayangkan bagaimana nasib generasi penerus bangsa kedepannya, tapi tanpa seorang ibu, akan lebih tak dapat dibayangkan lagi bagaimana nantinya. Mengapa demikian? Seorang guru masih ada tunjangan dari pemerintah ataupun yayasan untuk segala jasa dan pengabdiannya, tapi untuk jasa seorang ibu siapa yang akan menyediakan tunjangan?

Cobalah tengok kembali, perjuangan dan pengabdian seorang guru jaman dulu dan masa sekarang, jelas banyak perbedaan. Kalau dulu, mereka benar-benar fokus pada niat utamanya untuk mencerdaskan anak bangsa. Tanpa honor pun mereka bersedia untuk mengemban tugas mulia itu. Tapi bandingkan dengan pendidik saat ini, walaupun ada juga yang masih memegang amanah mulia itu meski sedikit sekali, tapi bukan rahasia lagi bahwa banyak diantara mereka yang sudah sertifikasi, sudah inpassing, sudah PNS dan sebagainya, tidak di barengi dan di imbangi dengan peningkatkan mutu dan kualitas mengajarnya. Bahkan ada juga yang memanipulasi jadwal jam pelajaran –padahall tidak sesuai dengan kenyataan jam mengajarnya- hanya untuk mendapatkan sebuah status maupun untuk mengikuti pengangkatan kepegawaian tertentu. Dan bila hal itu terus menerus terjadi, sangat di sayangkan sekali. Karena telah mengorbankan pendidikan untuk segelintir kepentingan.

Semoga dengan di Peringatan Hari Guru nasional yang kesekian tahun ini, dapat menjadi cermin bagi para pendidik untuk meningkatkan mutu dan kualitas mengajarnya. Sehingga niat awal yang mulia di balik tugas mengajar dan pengabdiannya untuk mencerdaskan kehidupan anak bangsa tidak  terbelokkan dengan niat lain untukk mencari keuntungan maupun modus lain di belakangnya. Aamiin.

GURUKU PAHLAWANKU – DIBALIK MAKNA HARI GURU NASIONAL Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Belajar Kreatif