Metode Pembelajaran, Model Pembelajaran kreatif, cara belajar cepat, motivasi sukses, peluang usaha, tips bisnis, tips investasi, insurance, travelling, tutorial blogger, trik seo, teknik fotografi, Aneka seni kerajinan tangan, origami, resep masakan khas, tips kesehatan, obat alami, cara cantik alami.

7 PUISI PERJUANGAN PENYAIR BESAR INDONESIA

puisi dan sajak perjuangan dari penyair besar Indonesia
7 Puisi perjuangan penyair besar Indonesia – Penyair sekaligus pujangga besar Indonesia seperti WS Rendra, Taufik Ismail, Mansur Samin, Chairil Anwar, Sapardi Djoko Amono, Toto Sudarto Bachtiar dan Emha Ainun Najib telah banyak menciptakan puisi dan sajak perjuangan yang luar biasa. Mereka adalah para penyair hebat yang telah banyak memberikan krtitikan-kritikan pedas kepada pemerintah lewat puisi dan syair.  Masalah-masalah social, kemanusiaan, politik, serta kebijakan pemerintah banyak di surakan dalam puisi mereka. Itulah bentuk perjuangan mereka dalam menggiring bangsa ini menjadi bangsa yang adil dan sejahtera.

Buat sobat semua, belajar kreatif kali ini bagikan 7 puisi perjuangan penyair besar Indonesia dengan tujuan untuk kembali membangkitkan semangat dalam diri kita dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Puisi perjuangan ini juga dapat kita jadikan sebagai bentuk cara untuk mengenang jasa-jasa pejuang  negeri ini serta penghormatan kita kita terhadap apa yang telah mereka berikan selama ini kepada bangsa yang besar dan kaya ini walau kenyataannya masih banyak yang tidak berjalan semestinya sesuai yang diharapkan. Silahkan baca puisi perjuangan dibawah ini.

PUISI PEZRJUANGAN PENYAIR BESAR INDONESIA


 NOVEMBER
Oleh : Mansur Samin
 
Seperti pelancong larut dari perjalanan jauh
dibebani semua hasrat bermakna mimpi
kami hadir di November ini
membawa rahasia keharusan untuk ditanya
dekatlah kemari ke denyut kehidupan ini
dengar, dari kerinduan tanah air kami mulai
di tepi harapan sepanjang malam
pertanyaan makin tumpul dalam diri
adakah kepercayaan melahirkan pegangan
sedang pasar, gudang , kantor dan pabean
telah lam aluput tangkapan
karena berlaku hukum kediam-diaman
Bukan tidak percaya kami bertanya
sebab kami cinta apa yang kami yakini
jangan biarkan kami sendiri
mengadu pada arti November ini
bukankah bertahun semua tarohan siap merana
untuk kemenangan yang sama kita percaya
Seperti penanggung rindu kami datang kesampingmu
minta disingkap tabir rahasia itu
tuan-tuanlah pengemudi tanah air
sari kehidupan hasrat mencari
datanglah ke dapur kami ke baringan anak-anak kami
gelap dan terang jelaskan o, para budiman
dasar Kemerdekaan !
Bagaimana pula mendiamkan ini kenyataan
kerna sarat oleh goda cobaan
meri tegakan kesini ke November ini
bersaksi jasa dan nyawa-nyawa yang pergi
untuk kelanjutan nilai hari datang
ini kepercayaan jangan tangguhkan tapi lajukan
sebab nilai kenangan Indonesia
berakhir pada arti dan jiwa
 
Gelora, No 19, Th III
19 Maret 1962
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air


SEBUAH JAKET BERLUMUR DARAH
Oleh : Taufiq Ismail

Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah berbagi duka yang agung
Dalam kepedihan berahun-tahun

Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja

Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan 'Selamat tinggal perjuangan'
Berikrar setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?

Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang

Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
LANJUTKAN PERJUANGAN


1966

ATAS KEMERDEKAAN
Oleh :  Sapardi Djoko Damono

kita berkata : jadilah
dan kemerdekaan pun jadilah bagai laut
di atasnya : langit dan badai tak henti-henti
di tepinya cakrawala
terjerat juga akhirnya
kita, kemudian adalah sibuk
mengusut rahasia angka-angka
sebelum Hari  yang ketujuh tiba
sebelum kita ciptakan pula Firdaus
dari segenap mimpi kita
sementara seekor ular melilit pohon itu :
inilah kemerdekaan itu, nikmatkanlah
 
Horison
Thn III, No. 8
Agustus 1968
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Oleh : Chairil Anwar

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

1948

LAGU SEORANG GERILYA

(Untuk puteraku Isaias Sadewa)
Oleh :  W.S. Rendra

Engkau melayang jauh, kekasihku.
Engkau mandi cahaya matahari.
Aku di sini memandangmu,
menyandang senapan, berbendera pusaka.
Di antara pohon-pohon pisang di kampung kita yang berdebu,
engkau berkudung selendang katun di kepalamu.
Engkau menjadi suatu keindahan,
sementara dari jauh
resimen tank penindas terdengar menderu.
Malam bermandi  cahaya matahari,
kehijauan menyelimuti medan perang yang membara.
Di dalam hujan tembakan mortir, kekasihku,
engkau menjadi pelangi yang agung dan syahdu
Peluruku habis
dan darah muncrat dari dadaku.
Maka  di saat seperti itu
kamu menyanyikan lagu-lagu perjuangan
bersama kakek-kakekku yang telah gugur
di dalam berjuang membela rakyat jelata
 
Jakarta, 2 september 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi

ANTARA TIGA KOTA

Oleh :  Emha Ainun Najib
 
 di yogya aku lelap tertidur
angin di sisiku mendengkur
seluruh kota pun bagai dalam kubur
pohon-pohon semua mengantuk
di sini kamu harus belajar berlatih
tetap hidup sambil mengantuk
kemanakah harus kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga ?
Jakrta menghardik nasibku
melecut menghantam pundakku
tiada ruang bagi diamku
matahari memelototiku
bising suaranya mencampakkanku
jatuh bergelut debu
kemanakah harus juhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga
surabaya seperti ditengahnya
tak tidur seperti kerbau tua
tak juga membelalakkan mata
tetapi di sana ada kasihku
yang hilang kembangnya
jika aku mendekatinya
kemanakah haru kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga ?

PAHLAWAN TAK DIKENAL

Oleh : Toto Sudarto Bahtiar

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang
Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda
Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda

(1955)

Siasat, Th IX, No. 442 1955
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

Itulah puisi perjuangan dari penyair besar Indonesia yang sangat luar biasa dan banyak arti dan makna yang dapat kita renungkan dalam-dalam. Semoga ini bermanfaat bagi kita.
7 PUISI PERJUANGAN PENYAIR BESAR INDONESIA Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Belajar Kreatif